Gue pernah ngalamin masa di mana tabungan udah tipis, tapi anak udah rewel minta liburan. Dua minggu sebelumnya dia lihat temennya posting foto di kolam renang hotel, dan sejak itu tiap hari dia tanya, "Kapan kita liburan, Yah?" Sementara gue baru bayar cicilan motor dan uang sekolah. Jujur, rasanya kayak ditampar.
Tapi ternyata ada jalan tengah. Bukan liburan mewah ala influencer, tapi liburan yang bener-bener bikin anak senang tanpa bikin rekening nangis. Dan ini yang gue pelajari selama tiga tahun terakhir jalan-jalan sama istri dan satu anak dari Jakarta.
Mulai dari Mindset: Liburan Bukan Lomba Foto
Hal pertama yang harus dibenahi itu kepala kita sendiri. Kita sering terjebak mikir liburan harus ke Bali, harus nginep di hotel bintang empat, harus ada foto estetik buat feed. Padahal anak umur 6 tahun tuh nggak peduli hotelnya bintang berapa. Yang dia inget itu pas dia bisa lari-lari di pantai, main pasir, atau lihat kambing di kebun.
Begitu gue lepas ekspektasi "liburan harus keren di sosmed", semuanya jadi jauh lebih murah. Dan anehnya, anak gue jadi lebih happy karena gue nggak sibuk nyari angle foto terus.
Liburan yang mahal belum tentu bikin anak bahagia. Liburan yang murah tapi bener-bener kita nikmatin bareng, itu yang nempel di ingatan.
Pilih Destinasi yang Ramah Kantong, Bukan yang Ramai di Instagram
Kota besar kayak Jakarta, Surabaya, atau Bandung itu punya masalah yang sama: semua serba mahal kalau kita nggak jeli. Tapi di sekitar kota-kota itu ada banyak tempat yang belum banyak dilirik, dan justru itu yang menyelamatkan kami.
Beberapa tempat yang gue rekomendasiin buat keluarga kecil
- Kawasan Puncak tapi bukan yang utama. Banyak penginapan kecil di Cisarua atau Megamendung yang harganya di bawah Rp400 ribu per malam. Jauh dari keramaian, udaranya tetap dingin, dan anak bisa main di halaman.
- Pantai Anyer bagian barat. Kalau ke arah Carita atau Labuan, harga penginapan bisa setengah dari Anyer pusat. Anak tetap bisa main pasir dan lihat sunset.
- Kebun raya daerah. Kebun Raya Bogor, Cibodas, atau Purwodadi itu tiketnya murah banget. Anak bisa lari-lari, lihat tumbuhan, dan kita bisa piknik bawa bekal.
- Desa wisata di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Ini yang paling underrated. Homestay warga Rp150 ribu udah dapet kamar bersih plus sarapan. Anak bisa belajar nanam padi atau main sama anak lokal.
Gue pernah bawa anak ke desa wisata di daerah Borobudur, nginep di rumah warga, dan dia bilang itu liburan paling seru yang pernah dia rasain. Padahal total pengeluaran kami tiga hari cuma sekitar Rp1,8 juta untuk bertiga, termasuk bensin dan makan.
Trik Tekan Biaya yang Bener-Bener Kepake
Ini bagian yang paling sering ditanya temen-temen. Gimana caranya biaya bisa ditekan tapi anak tetap senang? Jawabannya bukan satu trik ajaib, tapi kombinasi beberapa hal kecil yang kalau digabung hasilnya lumayan besar.
Pertama, jalan di hari kerja. Gue tahu ini susah buat yang kerja kantoran. Tapi kalau bisa ambil cuti di hari Selasa sampai Kamis, harga penginapan bisa turun 30 sampai 50 persen. Tiket masuk wisata juga biasanya lebih murah atau sepi, jadi anak bisa main lebih leluasa.
Kedua, bawa bekal. Ini klise tapi nyata. Makan di tempat wisata itu rata-rata Rp50 ribu per orang. Kalau bertiga, sekali makan udah Rp150 ribu. Bawa nasi goreng atau sandwich dari rumah bisa hemat Rp100 ribu per makan. Dalam tiga hari, itu udah Rp600 ribu lebih.
Ketiga, pilih penginapan yang ada dapur atau kulkas. Banyak homestay dan guest house punya dapur bersama. Kita bisa masak mie atau bikin susu buat anak tanpa harus beli di kafe.
Keempat, manfaatkan transportasi umum atau sewa motor. Kalau destinasi ramah transportasi umum kayak Yogyakarta atau Solo, naik Trans Jogja atau bus lokal itu murah banget. Sewa motor harian sekitar Rp70 ribu, jauh lebih hemat daripada bawa mobil sendiri kalau jarak dekat.
Kelima, cari tiket bundling. Banyak tempat wisata di Indonesia sekarang jual paket keluarga. Kadang harganya lebih murah 20 sampai 30 persen dibanding beli terpisah. Cek website resmi atau akun media sosial pengelolanya sebelum berangkat.
Jangan Korbankan Pengalaman Anak Demi Hemat
Ini yang penting. Hemat bukan berarti pelit sampai anak nggak dapet apa-apa. Ada beberapa hal yang menurut gue nggak boleh dikorbankan.
Pertama, kebersihan penginapan. Kalau kamar mandi kotor atau kasurnya bau, anak bisa sakit. Lebih baik naikkan budget sedikit buat penginapan yang layak daripada nanti harus ke dokter.
Kedua, makanan bergizi. Boleh hemat, tapi jangan sampai anak cuma makan mie instan tiga hari. Tetap ada protein, sayur, dan buah. Ini investasi kesehatan, bukan pemborosan.
Ketiga, pengalaman yang bikin anak belajar. Kalau ada aktivitas berbayar yang edukatif, misalnya belajar bikin batik atau naik perahu, dan harganya masih wajar, gue biasanya ambil. Karena itu yang bikin liburan punya makna, bukan cuma lewat.
Gue pernah nolak ajakan naik kuda di pantai karena harganya Rp150 ribu untuk 10 menit. Anak gue kecewa banget, dan sampai sekarang dia masih inget kalau gue bilang "nggak usah, mahal". Sejak itu gue belajar, ada kalanya hemat itu bukan prioritas.
Rencanain dari Jauh Hari, Tapi Fleksibel di Tempat
Perencanaan itu kunci. Gue biasanya bikin budget kasar dua minggu sebelum berangkat. Bagi jadi empat pos: transportasi, penginapan, makan, dan aktivitas. Dari situ kelihatan mana yang bisa ditekan.
Tapi di tempat, jangan terlalu kaku. Kadang ada temuan menarik yang nggak masuk rencana, dan justru itu yang jadi highlight liburan. Anak gue pernah nemu sungai kecil di pinggir jalan saat perjalanan pulang dari Puncak, dan dia main air di situ hampir satu jam. Gratis, dan dia ketawa terus.
Yang penting, liburan sama keluarga kecil itu bukan soal seberapa jauh atau seberapa mahal. Tapi seberapa hadir kita di momen itu. Anak nggak butuh liburan mahal. Dia butuh orang tuanya yang nggak sibuk mikirin kerjaan atau HP.
Jadi kalau dana lagi mepet, jangan batalkan liburan. Ubah caranya aja. Indonesia ini luas, dan banyak tempat indah yang ramah kantong. Tinggal kitanya mau cari atau nggak.