Sabtu, 17 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
allyonoapp1.comallyonoapp1.com
allyonoapp1.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Di Kos Jam 2 Pagi, Gue Putuskan ke Sumba Sendiri

Di Kos Jam 2 Pagi, Gue Putuskan ke Sumba Sendiri

Cerita mahasiswa perantau yang kabur ke Sumba demi healing murah, plus tips praktis biar tripnya nggak bikin bokek.

Jam 2 pagi, di kosan sempit lantai dua, gue masih melek ngerjain revisi bab tiga. Kipas angin bunyi krek-krek, tetangga kamar lagi batuk, dan tiba-tiba gue ngerasa pengen hilang aja dari Semarang. Bukan hilang beneran, sih. Cuma pengen lihat sesuatu yang bukan tembok kamar 3x3 meter dan tumpukan jurnal.

Dua minggu kemudian, gue duduk di bangku kayu sebuah warung di Sumba Timur, nyeruput kopi robusta yang rasanya pahit banget tapi entah kenapa bikin tenang. Tiket pesawat gue beli pas gajian pertama dari kerja part-time, pas lagi nekat-nekatnya. Dan tulisan ini basically cerita gue soal kenapa Sumba jadi pilihan, plus hal-hal praktis yang gue pelajarin di lapangan — biar kamu yang lagi mikir "pengen kabur tapi duit mepet" bisa ngikutin tanpa nyesel.

Kenapa Sumba, Bukan Bali atau Jogja?

Gue tahu, kebanyakan mahasiswa perantau kalau pengen liburan ya larinya ke Bali, Jogja, atau Bandung. Murah, deket, udah banyak yang review. Tapi justru itu masalahnya. Gue pengen tempat yang bikin gue berhenti scroll HP karena sinyalnya jelek, bukan karena lagi foto-foto buat feed.

Sumba itu pulau di NTT yang sering dibilang "Bali 30 tahun lalu". Jujur, gue awalnya skeptis. Takut cuma jadi tagline marketing. Tapi begitu turun dari pesawat di Tambolaka, langsung kerasa bedanya. Nggak ada mall, nggak ada kopi kekinian, yang ada cuma bukit savana kecoklatan dan langit yang biru-nya kayak hasil editan.

Yang bikin gue makin yakin: biaya hidup di sana lebih murah dari yang gue bayangin. Penginapan sederhana bisa 100-150 ribu per malam, makan di warung lokal 15-25 ribu udah kenyang. Buat kantong mahasiswa yang baru gajian, ini masuk banget.

Yang mahal itu bukan Sumba-nya. Yang mahal itu ekspektasi kita yang pengen semuanya instan dan Instagramable.

Rute dan Budget yang Gue Pakai (Realistis, Bukan Teori)

Gue terbang dari Semarang ke Kupang dulu, transit di Jakarta. Total tiket pulang-pergi sekitar 1,8 juta karena gue beli jauh-jauh hari dan pake maskapai yang bukan full service. Kalau kamu dari Jawa, bisa juga lewat Denpasar langsung ke Tambolaka atau Waingapu, tergantung maskapai yang lagi promo.

Dari bandara, gue sewa motor. Ini keputusan paling penting. Sumba itu luas, transportasi umum minim, dan ojek online basically nggak ada di banyak area. Sewa motor harian sekitar 75-100 ribu. Kalau kamu nggak bisa bawa motor, siap-siap budget lebih buat sewa mobil plus driver, bisa 400-600 ribu per hari.

Itinerary gue simpel banget, nggak muluk-muluk:

  • Hari 1-2: Area Tambolaka, istirahat, adaptasi, jalan-jalan ke pantai deket-deket aja
  • Hari 3-4: Desa Ratenggaro dan Kampung Wae Rebo versi Sumba (rumah adat tinggi, pemandangan laut)
  • Hari 5-6: Bukit Wairinding dan Padang Savana, ini yang bikin gue speechless
  • Hari 7: Balik ke Tambolaka, beli olehan, pulang

Total pengeluaran gue seminggu sekitar 3,5 juta. Itu udah termasuk tiket, penginapan, makan, sewa motor, dan bensin. Nggak murah banget, tapi jauh lebih murah dari yang gue kira sebelumnya.

Hal yang Sering Dilupain Mahasiswa Perantau

Pertama, bawa cash lebih banyak. ATM di Sumba nggak sebanyak di Jawa, dan beberapa tempat nggak nerima kartu atau QRIS. Gue sempat panik karena dompet tinggal 50 ribu dan ATM terdekat 40 kilometer jauhnya.

Kedua, sinyal. Kalau kamu kerja remote atau masih ada deadline kampus, jangan harap bisa Zoom meeting lancar di sana. Anggap aja ini kesempatan buat bener-bener offline. Justru itu yang gue cari.

Ketiga, soal budaya. Sumba punya tradisi yang kuat, termasuk soal pasola dan upacara adat. Kalau kebetulan dateng pas ada acara, hormati aturannya. Jangan asal foto. Tanya dulu ke warga lokal, biasanya mereka ramah banget kalau kita sopan.

Momen yang Bikin Gue Balik Lagi

Ada satu malam di Bukit Wairinding, gue duduk sendirian di atas motor, angin kencang, dan langit penuh bintang. Nggak ada lampu kota, nggak ada suara motor lewat. Cuma gue dan semesta. Gue yang biasanya overthinking soal nilai, soal uang, soal masa depan, tiba-tiba ngerasa semuanya kecil banget.

Bukan berarti masalah gue hilang. Balik ke kosan, revisi bab tiga masih nunggu. Tapi ada sesuatu yang berubah. Gue jadi lebih sabar, lebih bisa menikmati hal-hal kecil. Dan itu, buat gue, lebih berharga dari sekadar foto di feed.

Kalau kamu lagi di titik jenuh — kerja part-time, kuliah, dan hidup di kosan yang panas — nggak ada salahnya mikirin trip kayak gini. Nggak harus Sumba, kok. Bisa Labuan Bajo, bisa Sumbawa, bisa mana aja yang bikin kamu keluar dari rutinitas. Yang penting, berangkat. Sekecil apa pun budget-nya, kalau niatnya jelas, jalan pasti ketemu.

Gue nggak bilang ini solusi semua masalah. Tapi kadang, yang kita butuhin cuma jarak. Jarak dari kosan, dari deadline, dari ekspektasi orang lain. Dan Sumba, buat gue, kasih jarak itu dengan cara yang paling jujur.

Tags: Sumba wisata murah mahasiswa perantau solo traveling NTT