Jam empat sore, warung saya baru saja tutup. Kursi plastik masih saya tumpuk, kopi terakhir sudah habis, dan saya sedang menatap tumpukan nota belanja yang bikin dahi berkerut. Di momen seperti itu, biasanya saya cuma pengen rebahan. Tapi hari itu, entah kenapa, saya malah buka HP dan cari tiket ke Sumba.
Gila, ya. Warung kecil dengan omzet pas-pasan, tapi pikiran jalan-jalan ke Sumba. Tapi justru dari situlah cerita ini dimulai — dan pelajaran yang saya dapat ternyata bukan soal liburan, tapi soal cara saya mengelola usaha.
Baca juga: Sibuk Kerja? Curug vs Pantai: Mana Liburan Kilat buat Warga Kampung
Kenapa Sumba, Bukan Bali atau Jogja
Alasannya sederhana: saya sudah bosan lihat foto teman-teman di Bali. Semua sudutnya mirip. Saya pengen tempat yang bikin saya merasa benar-benar pergi, bukan sekadar pindah lokasi foto.
Sumba waktu itu masih terdengar "jauh" di telinga orang kebanyakan. Penerbangan ke Tambolaka nggak sebanyak ke Denpasar. Hotelnya nggak seramai Kuta. Tapi justru itu yang bikin saya penasaran. Saya pesan tiket sekitar tiga minggu sebelumnya, dapat harga yang masih masuk akal karena bukan musim ramai. Total budget saya, termasuk penginapan dua malam dan makan, sekitar Rp2,8 juta. Buat pemilik warung seperti saya, itu bukan angka receh — tapi saya sengaja menyisihkan dari keuntungan bulanan, sedikit-sedikit.
Yang Bikin Saya Melongo di Hari Pertama
Begitu keluar dari bandara, saya langsung sadar satu hal: di Sumba, waktu terasa lebih lambat. Jalanan lengang. Rumah-rumah beratap alang-alang masih banyak. Saya sewa motor dari warga lokal, dan dalam perjalanan ke pantai pertama, saya berhenti di sebuah warung kecil pinggir jalan. Pemiliknya, seorang bapak paruh baya, ngobrol panjang soal bagaimana dia mengelola warungnya — dari stok gula sampai cara menyimpan beras biar nggak berkutu.
Di situ saya ketawa sendiri. Saya datang jauh-jauh buat liburan, tapi yang saya lakukan justru ngobrol soal warung. Tapi justru dari obrolan itu saya dapat tips yang sampai sekarang saya pakai: jangan belanja stok dalam jumlah besar kalau penyimpanan nggak memadai. Kelihatan sepele, tapi hemat saya lumayan.
Pantai yang Bikin Lupa Nota Belanja
Pantai di Sumba selatan, terutama sekitar Tarimbang dan Walakiri, punya karakter yang beda. Pasirnya luas, ombaknya besar, dan yang paling penting: sepi. Saya duduk di sana hampir dua jam tanpa buka HP. Nggak ada notifikasi, nggak ada chat supplier, nggak ada pikiran soal sewa tempat.
Rupanya yang saya butuhkan bukan liburan mahal, tapi jeda yang cukup panjang buat berhenti mikirin usaha.
Malamnya saya makan ikan bakar di warung sederhana, ditemani warga yang cerita soal panen dan musim. Saya pulang ke penginapan dengan perut penuh dan kepala jauh lebih ringan dibanding saat berangkat.
Pelajaran yang Saya Bawa Pulang ke Warung
Ini bagian yang paling nggak saya duga. Perjalanan tiga hari dua malam itu ternyata ngasih tiga hal yang langsung kepakai di usaha saya:
- Efisiensi itu soal kebiasaan, bukan alat mahal. Warung di Sumba yang saya datangi nggak punya mesin kasir canggih, tapi pencatatannya rapi karena disiplin. Saya pulang lalu mulai catat pengeluaran harian di buku tulis sederhana. Hasilnya, saya jadi tahu mana pengeluaran yang sebenarnya nggak perlu.
- Jangan takut terlihat "kecil". Warung-warung di sana nggak malu tampil sederhana, dan justru itu yang bikin orang percaya. Saya berhenti memaksakan renovasi besar-besaran yang bikin modal habis.
- Jeda itu investasi. Saya selalu merasa nggak boleh libur karena warung harus buka tiap hari. Ternyata dengan menutup warung dua hari dan menitipkan ke saudara, saya balik dengan ide-ide baru. Omzet malah naik minggu berikutnya.
Buat Kamu yang Punya Usaha Kecil
Saya nggak akan bilang "wajib ke Sumba". Itu terlalu berlebihan. Tapi kalau kamu pemilik usaha kecil yang merasa stuck, coba deh sisihkan sedikit keuntungan tiap bulan buat pergi ke tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Nggak harus jauh. Nggak harus mahal. Yang penting kamu keluar dari rutinitas dan melihat bagaimana orang lain menjalani hidup dan menjalankan usaha mereka.
Buat saya, Sumba bukan cuma soal pantai atau padang savana. Sumba adalah pengingat bahwa usaha kecil bisa jalan dengan kepala dingin dan hati yang nggak terlalu penuh. Kadang yang kita butuhkan cuma duduk di pantai sepi, ngobrol sama orang asing, lalu pulang dengan cara pandang yang baru.
Kalau kamu punya cerita perjalanan yang ngubah cara kamu jalankan usaha, bagi dong di kolom komentar. Saya selalu penasaran sama pengalaman orang lain — siapa tahu jadi ide buat perjalanan saya berikutnya.